GridOto.com - Kendaraan listrik dinilai sebagai solusi, untuk mengurangi pencemaran udara dan ketergantungan akan bahan bakar fosil.
Hal ini membuat pemerintah berupaya mempercepat era elektrifikasi di Indonesia, dan diharapkan secara bertahap masyarakat akan beralih ke kendaraan listrik.
Bahkan, keseriusan ini dibuktikan dari terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.
Meski begitu, Yohannes Nangoi, selaku Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkapkan, kendaraan listrik memang solusi, namun bukan satu-satunya jawaban.
(Baca Juga: Curi Start Mobil Listrik. Siapa Bakal Diminati?)
"Jadi ini yang kami lihat, bahwa kami memandang ada dua alternatif mengganti bahan bakar fosil," papar Nangoi saat berada dalam acara diskusi bertajuk 'Kendaraan Listrik Sebagai Solusi Polusi Udara dan Pengurangan Penggunaan BBM' yang dihelat Kompas, Jakarta, Jumat (23/8/2019).
"Pertama adalah listrik dan yang kedua adalah yang namanya biofuel atau bioenergi," imbuhnya.
Nangoi menambahkan, biofuel atau di Indonesia saat ini dikenal dengan nama biodiesel memiliki sifat energi baru dan terbarukan.
"Terutama di Indonesia sangat digalakkan penggunaan bahan baku minyak sawit, yang saat ini dari kemeterian ESDM menginginkan kalau bisa untuk solar pakai B30," kata nangoi lagi.
"Berarti ada pengurangan 30 persen penggunaan solar," sambungnya.
(Baca Juga: Membandingkan Biaya Konsumsi Sumber Tenaga Mobil Listrik Vs Bensin)
Lebih lanjut Nangoi juga menjelaskan, masih banyak kendala untuk menerapkan kendaraan listrik di Indonesia untuk saat ini.
Terutama pada daya jelajahnya yang tidak terlalu jauh jika dibandingkan jenis mobil lainnya, dan masih sangat bergantung pada stasiun pengisian listrik.
"Kekurangan pada mobil baterai itu jangkauannya baru mencapai sekitar 300 sampai 350 km, jadi kalau untuk perjalanan jauh dari Jakarta mau ke Semarang itu agak susah," jelas Nangoi.
"Mungkin di tengah jalan dia musti menginap di Cirebon untuk mengisi lagi baterainya kira-kira," terangnya.
(Baca Juga: Toyota Masih Bungkam Soal Jajaran Produk untuk Sambut Perpres Mobil Listrik)
Selain itu, biaya produksi mobil listrik untuk terbilang sangat mahal jika dibandingkan dengan mobil bermesin konvensional dan kendaraan hibrida.
"Dibandingkan mobil konvensional atau berbahan bakar minyak (internal combustion engine/ICE), biayanya kira-kira lebih mahal 87 persen," ujar Nangoi.
"Perbedaan biaya mobil jenis ICE dengan hibrida itu sekitar 15 persen, kalau PHEV sekitar 60 persen. Maka, harga jual mobil listrik murni sangat mahal," lanjutnya.
Sehingga membuat harga jualnya menjadi sangat tinggi dan sulit dijangkau untuk seluruh kalangan masyarakat.
(Baca Juga: Toyota Curhat Masuknya Mobil Listrik Ke Indonesia Tidak Mudah, Ini Kendalanya!)
"Mobil listrik itu akan menyasar konsumen-konsumen yang sudah establish, dan mereka akan menambah mobilnya untuk yang ke-2 atau ke-3," ungkap Nangoi lagi.
"Berdasarkan survei kami menyatakan begitu kira-kira, karena mereka masih meragukan jarak tempuhnya sebagai mobil utama untuk menemani mereka berkegiatan," tutupnya.
Editor | : | Muhammad Ermiel Zulfikar |
KOMENTAR