GridOto.com - Pastinya sudah umum mendengar busi tipe iridium di pasaran.
Busi tipe iridium merupakan elektroda inti busi yang menggunakan bahan logam mulia yang disebut iridium.
Lalu mengapa bisa dibilang busi tipe iridium cocok untuk digunakan harian?
Sebagaimana kita ketahui, iridium merupakan bahan logam yang ada di tabel periodik pada nomor 77.
Iridium memiliki titik lebur atau melting point mencapai 2.450 derajat celcius.
(Baca Juga: Ternyata Efek Panjang Ulir Busi Enggak Sesuai Bisa Bikin Mesin Jebol)
Sedangkan untuk bahan elektroda busi biasa seperti bahan nikel hanya mampu bertahan 1.454 derajat celcius.
"Jadi untuk mesin dengan panas yang tinggi, bahan iridium pada elektroda tengah sangat baik. Dengan bahan elektroda yang tidak mudah meleleh membuat kinerja busi tidak terganggu seperti bahan lainnya," ucap Diko Oktaviano selaku Technical Support Product Specialist NGK Busi Indonesia.
Selain dari titik lebur yang tinggi, bahan iridium pada elektoda tengah busi memiliki thermal conductivity atau konduktivitas thermal yang lebih tinggi.
Konduktivitas thermal merupakan ukuran kemampuan suatu bahan untuk mengalirkan panas.
Semakin tinggi angka konduktivitas thermal maka akan semakin bagus bahan logam mulia tersebut.
(Baca Juga: Pakai Busi NGK Laser Iridium Harus Ganti Koil Biar Efektif, Masa Sih?)
Pada bahan iridium, konduktivitas thermal mencapai 150 W/mK.
Sedangkan bahan nikel hanya 91 W/mK.
"Untuk melihat data ini bisa dicari pada tabel periodik yang ada di internet. Jadi bahan iridium jauh lebih baik," tambahnya.
Walaupun dibentuk dengan runcing dengan diameter 0,6 mm seeperti busi NGK, tapi bahan iridium lebih kuat.
"Untuk tingkat kekerasan bahan iridium 1.670 MPa dibanding dengan bahan nikel sekitar 700 MPa. Nah itu mengapa bahan busi biasa umumnya diameter elektroda tengahnya sekitar 2,5 mm," bebernya.
Dengan sifat bahan logam mulia yang lebih bagus ini maka bila dipakai harian membuat busi bisa bertahan lama.
Klaim dari NGK Busi Indonesia, busi tipe laser iridium keluaran terbaru bisa digunakan sampai 100.000 kilometer lho.
Editor | : | Dwi Wahyu R. |
KOMENTAR